default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Berdamai Dengan NWDI

Berdamai Dengan NWDI
Sekitar Kita
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

NWDI Online. Com - Siang itu, 23 Maret 2021, sebuah foto masuk ke group whatsapp HIMMAH NW. Tidak butuh waktu untuk mencerna siapa sosok di dalam foto itu. Dua sosok masyhur, tokoh besar yang dimiliki Nusa Tenggara Barat saat ini, TGB Zainul Majdi dan RTGB, Zainuddin Atsani berpose bersama. Ini adalah momen yang langka. Dua sosok dzuriyat Maulana syaikh yang selama ini dianggap “berseteru” saling merangkul lagi setelah sekian lama hidup dalam “fitnah”. Fitnah yang kemudian dikenal sebagai dualisme kepengurusan di Nahdlatul Wathan (NW), salah satu organisasi keagamaan terbesar di Indonesia setelah NU dan Muhammadiyah.


Foto yang diikuti caption “Alhamdulillah NWDI” itu dalam hitungan menit menuai beragam komentar. Ada yang berucap syukur, “Alhamdulillah, akhirnya guru kita bertemu“. Ada yang kecewa, ’’Kenapa harus berdiri dengan nama baru, NWDI?”.


Beberapa lainnya justru secepat kilat langsung mencoba berdamai dengan cara bercanda meskipun terlihat sedikit terpaksa, “Sudah sudah, sekarang jargon kita pokoknya NWDI, pokok NWDI iman dan taqwa, haha“. Ada juga yang nyeletuk, “Admin? Tolong ganti nama grup ini menjadi HIMMAH NWDI, haha“. 


Pada intinya komentar-komentar itu bermuara pada beberapa pertanyaan besar. “Sebenarnya apa saja hasil pertemuan itu? Kami (kader) harus bagaimana setelahnya? Katanya Islah, tapi kok ada wacana NWDI?”. Sejatinya, kedua sosok yang sama-sama “sibuk” ini tentu tidak bertemu untuk sekedar minum kopi Gilus mix yang lagi trend itu. Pasti ada agenda besar yang dibicarakan.


Kebingungan itu kemudian terjawab setelah seorang yang ikut serta di pertemuan tersebut memforward pesan ke dalam grup, “Alhamdulillah, saudara kita tetap NW, dan sekarang kita NWDI. Semangatnya sama, tidak ada yang berubah, semuanya tetap berjuang sesuai amanah guru kita, Maulana syaikh”.


Jika pertemuan ini kemudian hanya akan melahirkan “organisasi baru”, tentu wajar kiranya jika otak liar ini kemudian berpikir, ” ini islah yang aneh. Islah yang harusnya menghasilkan keharmonisan, justru melahirkan perpecahan baru. Bukankah dengan begini semakin memperparah keadaan?”


Selama ini yang kami sebagai jamaah pahami bahwa NW hanya berpisah secara struktur, tidak secara kultur. Secara struktur mungkin kita berbeda kepengurusan, tapi tidak dengan nilai-nilai kultural di NW. Hizib kita masih sama, jargon kita masih sama, lagu perjuangan kita masih sama. Lalu jika lahir organisasi dengan nama NWDI ini, apakah kita harus membuat hizib baru?

“Haha, Alhamdulillah?”

“Haruskah kita bersyukur?”

“Yakin? Bukankah selama ini kita berharap fitnah dualisme ini berhenti dan tidak adalagi dualisme dengan istilah Pancor dan Anjani?”


Secara pribadi saya sangat berharap islah ini menghasilkan solusi persatuan yang damai untuk kedua belah pihak. Masih ingat dengan jelas di kepala, sebuah video pendek yang beredar beberapa waktu lalu dan viral di media sosial.


Dalam sebuah kesempatan TGB berkata “Dan mari kita mulai dari kita, di dalam NW, karena itu pada saat pertemuan di Praya saya sampaikan mari kita bangun komunikasi, mari kita terus menerus membangun silaturrahim dengan saudara-saudara kita, teman-teman saudara kita di Anjani. Saya pernah menyampaikan ke beberapa tokoh, sampai titik mana saya itu mau bersilaturahim dan kita kompak, sampai titik mana itu sudah saya sampaikan. Perlu saya sampaikan nggak disini? (bertanya pada jamaah). Saya bahkan bilang pada pertemuan di Jakarta, ”Gede Sani (RTGB, Anjani) mau jadi ketua umum ndak apa-apa, saya jadi wakilnya”. Ndak usah ada ribut-ribut, silahkan menjadi ketua umum saya wakilnya. Nggak masalah saya sampaikan karena kita warga NW ini kan diajak utk membangun kebersamaan”, ungkap TGB yang kemudian disambut tepuk tangan haru oleh jamaahnya.


Ketika menonton video itu, tampak ada harapan yang begitu besar dan tulus dari sang guru untuk bersatu. Lalu kenapa pada akhirnya begini? Apakah karena syarat bersatu itu terlalu berat? Lalu apakah NWDI ini kemudian lahir sebagai bentuk nyata dari sikap “mengalah“, atau karena memang kita sudah kalah dan stuck? Otak saya semakin liar saja.


Saya kemudian teringat sebuah ungkapan, “if you think you know everything, you know nothing”. Terlalu besar masalah ini untuk saya pikirkan. Semakin saya berpikir, semakin saya berandai-andai, semakin saya menerka-nerka, semakin sulit pula untuk saya temui jawabannya. Saya justru hanya akan tersesat dalam pikiran saya sendiri. Tapi ada satu hal yang saya yakini bahwa ini adalah solusi terbaik dari kondisi hari ini. Guru kami, tentu lebih paham daripada kami semua.


Kami percaya, TGB sudah memikirkan semua ini dengan tingkat kepahamannya. Saya bukan satu-satunya yang berfikir demikian. Beberapa senior dengan lugas berkomentar terhadap sosok TGB yang dinilai sangat luar biasa. Begitu besar keinginan untuk bersatu, hingga kemudian mentok, lalu kemudian akhirnya memilih jalan ini demi tercapainya perdamaian. Ya, kami mengalah untuk kebaikan.


Diskusi group kemudian kembali diselingi dengan joke-joke segmented yang ringan tetapi menggelitik. Tidak ada yang benar-benar serius. Tenang sekali group whatsapp HIMMAH NWDI saat itu. Informasi yang masih belum jelas itu lalu terkonfirmasi oleh nota kesepakatan itu dibagikan di group whatsapp. Lengkap juga dengan hasil tangkapan layar “Kita sekarang NWDI, semangat kita tetap sama, perjuangan kita sama, hanya beda nama”. Ah apalah arti sebuah nama, walaupun sebenarnya terkadang kita tidak suka dipanggil monyet.


Narasi di media sosial


Sejak dibagikannya nota kesepakatan antara NW Anjani dan NW Pancor di WAG, kondisi kemudian semakin tenang dan terkendali. Namun lain halnya dengan group internal, facebook adalah dunia yang berbeda dan cukup keras. Netizen dengan kesaktian jemarinya masing-masing sepertinya cukup lihai untuk menebar kebencian sehingga semakin memperuncing keadaan. Kejam memang, dan sungguh mustahil untuk mengontrol opini yang berkembang. Kami lalu dihadapkan dengan konfrontasi narasi di facebook dengan teman-teman di sebelah. Opini yang menjatuhkan NWDI, yang mengatakan bahwa NWDI adalah penyimpangan ajaran Maulana syaikh dan beragam komentar serupa membanjiri berbagai group diskusi di facebook. Beberapa senior yang kurang sabar kemudian sedikit menepis dengan dengan tangan kirinya untuk bisa bertahan. Yah, meskipun beberapa narasi yang saya lihat justru agak sedikit blunder. Disisi lain, tidak sedikit juga yang berkomentar dengan menyerang TGB secara pribadi, yang kemudian berujung pada pelaporan ke polda NTB. Perbedaan pendapat dalam media sosial adalah satu hal yang wajar, tapi tidak ketika merusak marwah guru kami secara pribadi. Itu adalah persoalan lain.


Mencoba berdamai dengan keadaan


Sebagai orang yang tumbuh dan belajar di HIMMAH NWDI, sejujurnya saya berharap masalah ini tidak terjadi. Maka wajar jika beberapa orang terlihat kecewa, meskipun tidak berani mengungkapkannya ke sosial media dan memilih untuk diam. Tapi inilah yang harus dihadapi. Maka dari itu, di akhir tulisan ini saya ingin mengingatkan kembali cara berdamai ala TGH. Hasanain Djuaini, pengasuh pondok pesantren Nurul Haramain NW Narmada Lombok Barat, yang meskipun terdengar agak naif. Dalam suatu acara kepemudaan di tahun 2015. beliau pernah berkata, “Ada hal baik yang bisa kita petik dari dualisme ini. Pancor (TGB) dan Anjani (RTGB) saling berlomba-lomba bikin madrasah, memperbanyak kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan sosial dan dakwah. Meskipun dengan bendera masing-masing, tapi pada akhirnya semua bermuara pada satu hal yaitu membesarkan Nahdlatul Wathan sesuai ajaran Maulana syaikh.


Semuanya hanya sedang berfastabiqul khairat dengan caranya masing-masing“. Pelajaran yang saya petik dari kalimat tersebut adalah tentang konsep “berhusnudzon”. Ternyata dalam kondisi perpecahan yang konotasinya buruk sekalipun selalu saja ada berkah jika kita mau berpikir dan berjuang. 


Time is great healer, seiring waktu luka ini akan sembuh dengan sendirinya. Level tertinggi dari perubahan itu adalah ketika di suatu waktu di masa depan kita berani menertawakan kebodohan yang kita lakukan hari ini. Maka dari itu, mari kita berhenti melawan narasi bodoh. Mereka pada akhirnya akan capek dengan sendirinya. “Cara terbaik melawan orang bodoh adalah diam”, kata Ibnu Sina yang saya baca di catatan harian seorang himmawati. 


Oh iya, ada ungkapan kuno yang diwariskan oleh nenek moyang masyarakat Zimbabwe, “Sebesar apapun masalah dalam tubuh NW/NWDI, masih lebih besar cita-cita dan nilai perjuangan dari Maulana syaikh yang harus dikerjakan“. Fokus kita ke depan adalah bagaimana bekerja dan melanjutkan perjuangan organisasi ini dengan cara kita masing-masing yang kita anggap baik dan benar. Mari lanjutkan perjuangan, jalan kita masih panjang. Wallahua’lam… (Redaksi NWDI Online).

Oleh: Fuad Sauqi Isnain, S.TP., M.T.P., M.Sc. Biro Partisipasi Pembangunan dan Hubungan Internasional HIMMAH NWDI.


  • Tags
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar