default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

NWDI Bukan Rival NW | NWDIOnline

NWDI Bukan Rival NW | NWDIOnline
Opini
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

NWDI Online. Com - Saya bermaksud meluruskan mispersepsi terkait  ormas NWDI yg berkembang ditengah masyarakat. banyak masyarakat menarasikan ormas NWDI seolah "musuh" NW atau menganggap kehadiran ormas NWDI sebagai bentuk "pembangkangan" terhadap amanah Bapak Maulanasyaikh. 


Dengan perspektif ini, Semua saudaraku abituren, murid Bapak maulanasyaikh  bisa mendudukan kedua ormas pada tempat yang semestinya.


Pertama: Latar Belakang Lahirnya.

 

NWDI lahir dari perkawinan semangat dua Zurriat Maulana (RTGB dan TGB) demi komitmen menjaga harmoni berbangsa dan bernegara. Sehingga boleh dibilang NWDI lahir merupakan buah islah dua zurriat/sebagai jembatan silaturrahim kedua zurriat Maulanasyekh untuk tetap di jalan kebaikan.


Kelahiran NWDI bukan inisiasi/kehendak  Ummi Rauhun ZAM dan Syaikh TGB semata, tapi sebuah produk sejarah yang dapat ditelusuri semenjak Bapak Maulana masih hayat. Latar belakang lahirnya cukup panjang.  


Awal mula lahirnya adalah masalah internal keluarga. Di fase Almagfurulah, potensi dualisme itu telah ada. Makanya Bapak Maulanasyaikh sering menginisiasi islah untuk kedua zuriatnya. Salah satu caranya: menikahkan cucu dari kedua putri beliau. Bahkan beliau tidak segan meminta kepala daerah ketika itu, untuk fasilitasi islah untuk kedua Zurriatnya.  Namun Saya tidak ingin membahas detail masalah tersebut, karena alasan adab dan etika pada guru.


Namun sekedar mengingatkan saja, bahwa potensi  dualisme sudah ada sejak era Syaikh. Sehingga kita dapat mengerti ormas NWDI lahir bukan dengan sekonyong-sekonyong. Tapi sebuah proses sejarah yang panjang. Dengan kata lain,  tidak mungkin ada "akibat" tanpa ada "sebab".


Kehadiran NWDI sebagai ormas bukan dimaksudkan meninggalkan NW Bapak Maulana, Apalagi untuk memusuhi NW. itu adalah sebuah hipotesa yang sangat dangkal. Kalau Saya mengistilahkan itu, sebagai sebuah skoci perjuangan TGB untuk memperjuangakan cita-cita NW seperti amanah Bapak Maulana. 


Sebab ruang berkhidmat atas nama NW telah di tutup. Atau setidaknya akan menimbulkan kegaduhan sebagai akibat putusan hukum posisif. Mungkin ada yang tanya: mengapa tidak menerima saja putusan pemerintah dan ikhlas mengikuti PB yang telah di sahkan SK Kemenkumham?


Pertanyaan di atas, hanya bisa dijawab oleh apa yang terdengar dan terlihat oleh indra, akal dan budi. Pasca putusan MA dan penetapan pengurus oleh Kemenkumham keluar. TGB pernah berkata di sebuah pengajian: “Sampai titik mana saya harus mengalah, kalau RTGB mau jadi yang pertama silahkan, biar saya yang ke dua tidak apa-apa”, katanya. 


Berdasarkan statemen itu, bisa dikatakan TGB sudah menunjukkan i'tikad baik untuk menerima putusan hukum demi ketentraman masyarakat. 


Namun sayangnya…pemenang tidak serta merta mengalahkan egosentris dan prasangka negatifnya pada zurriat di Pancor. Sebaliknya dengan jumawa, pemenang  melakukan intimidasi ketengah masyarakat agar taat putusan hukum, jika tidak taat pada PB, tanggalkan logo NW atau jika tidak, akan menghadapi tuntutan hukum. 


Sikap tersebut turut mengkristalisasi perpecahan menjadi abadi dan tidak berkesudahan. Padahal jika saja pasca keluarnya putusan pemerintah, elit-elit di Anjani membuka power sharing seluasnya, untuk melakukan rekonsiliasi, merapikan komentar-komentar jamaahnya, cukup sudah mengungkit sejarah kelam, tutup lembaran kelabu, dan mengajak warga menatap masa depan organisasi bersama saudara-saudara yang bersengketa, lupakan dendam, ingat wasiat guru maka Insya Allah putusan tersebut akan menjadi pangkal persatuan dan akan mendapat legitimasi publik.


Andai kita mengerti betapa berat situasi TGB saat mengambil keputusan mendirikan ormas, mungkin kita tidak akan tega menuduh beliau sebagai perusak organisasi. Padahal akal pikiran, hidup dan matinya mungkin digunakan untuk perjuangan NW dan cita-cita niniknya. 


Kalau terlintas secuil saja dalam angan-angan TGB untuk meninggalkan amanah Bapak Maulana, mungkin dari awal sudah kualat dalam keterpurukan. Namun ternyata, satu demi satu, cita-cita Almagfurulah di wujudkan dalam karya dan prestasi. (maaf saya tidak bermaksud mengatakan: RTGB. tidak ada prestasi. secara pribadi, saya mengakui semua karya baik yang beliau lakukan) sekedar menyebutkan sekilas bukti bagaimana zurriat di Pancor sangat berjasa dalam mengangkat harkat martabat NW. 


Saya ingin mengatakan: Kehadiran NWDI sebagai ormas,  lahir dari cara berpikir sebagian warga NW yang diskrimanatif dan dikotomis. Lahir dari konstruksi sejarah yang diciptakan untuk mendegradasi zurriat di Pancor. Lahir dari Label miring  terhadap zurriat di Pancor yang telah lama membatu. 


Padahal itu hanya didasarkan pada masalah keluarga yang seharusnya tidak menjadi konsumsi publik. Makanya Almagfurulah terus mengingatkan untuk menghormati dan tidak mendiskriminasi kedua zurriat. Namun ujian adab mengamalkan amanah itu diuji dalam muktamar pertama pasca wafatnya Almagfurulah. 


Muktamar sebagai mekanisme legal memilih pemimpin organisasi menjadi tonggak terdistorsinya fungsi organisasi sebgai wadah dakwah menegakkan kalimatullah, menjadi sarana/panggung saling hujat, saling ghibah sesama saudara. 


Mental warga NW  di giring seolah berlomba menjadi pendukung salah satu zurriat. Siapa paling berani menghasut zurriat yang lain dianggap orang yang paling setia pada Organisasi Bapak Maulana.

 

Muktamar benar-benar telah menjadi batu uji terhadap adab dan akhlak bagaimana menyikapi perbedaan pandangan yang melibatkan zurriat. 


Semenjak itu, tumbuh subur narasi-narasi yang memojokkan dan mendegradasi zurriat. Masalah keluarga yang seharusnya menjadi konsumsi internal keluarga. Di ekploitasi oleh sebagian warga NW untuk mewujudkan ambisi politiknya. “Wasiat renungan masa” digiring untuk menghakimi zurriat yang lain. Fiksi tentang keluarga di Pancor pembangkang, keturuan perusak terus diproduksi. Demi meligitmasi syahwat politik.

 

Sementara zurriat di Pancor hanya menepis setiap tuduhan denga Prestasi dan Karya. Tidak pernah kita dengar zurriat di Pancor menghakimi saudaranya dari atas panggung dakwah. Kecuali oknum-oknum jamaah yang gagal menerjemahkan pesan moral TGB.  


Seandainya, TGB punya pilihan lain yang bisa membuat masyarakat tidak berbantahan, mungkin beliau tidak  mendirikan ormas. 


Kita bisa bayangkan bagaimana tersiksanya bathin beliau, bersusah payah mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan cita-cita niniknya, tenyata dianggap sebagai perusak amanah niniknya?


Mungkin lebih  sakit dengan pengalaman zurriat  di Anjani, yang merasa terusir dari kampung halamannya, merasa telah berkorban banyak untuk menyelamatkan organisasi niniknya (NW), mulai dari membangun madrasah dari Nol dan mendirikan gedung.

 

Bedanya,  zurriat di Anjani dengan segala jerih payah pengorbanannya membangun madrasah di persepsi sebagai Pahlawannya NW oleh sebagian warga NW, sedang Zurriat di Pancor dengan segala prestasi dan kontribausi untuk bangsa khususnya NW, di persepsi sebagai Pengkhianat dan perusak Organisasi niniknya. 


Jamaah yang melabeli TGB sebagai perusak organisasi alasannya karena dianggap melangggar anggaran dasar dan Rumah Tangga organisasi. Menurut hemat saya label itu muncul sebagai akibat dari pembusukan yang dilakukan oleh beberapa oknum dengan mengekploitasi masalah-masalah yang sebenarnya telah selesai pada Almagfurulah hayat.


Dasar pikir sebagian jamaah RTGB sukses membuat TGB harus membuat Ormas Baru dengan Nama NWDI. Selanjutnya  sempurnalah tuduhan mereka bahwa TGB  adalah perusak NW/penghianat amanah niniknya.

 

Saudaraku …..


Jika kehadiran NWDI dianggap sesuatu yang dilarang? Maka cara pandang yang adil dalam mempersepsi kasus itu adalah anggap itu sebagai Dosa kolektif warga Nahdlatul Wathan. Itu adalah simbol kekeliruan kita dalam mempersepsi zurriat Maulanasyaikh. Itu adalah ciptaan akal-akal busuk  kita, itu adalah wujud konkrit dosa-dosa kita. Alasan paling sederhana adalah karena kita gagal mencegah itu terjadi.


Mungkin ini yang di khawatirkan Bapak Maulanasyaikh seperti yang tertuang dalam butiran mutiara dalam mimbar Abror, beliau pernah mengatakan: 


”Saya berpikir bagaimana kalian nanti, seratus persen perselisihan/pertentangan justru dilakukan oleh orang-orang beragama. Semoga saja nantinya kalian kuat diterpa situasi zaman ini karena sudah terlalu banyak kejadian dan pengalaman yang saya lalui”.


Ahirnya......Berhentilah menyandarkan dosa organisasi ini pada satu kelompok tertentu, tanamkan dalam hati  bahwa itu keselahan bersama. Agar tergugah rasa tanggung jawab untuk sama-sama saling perbaiki.  Kembali dalam satu ormas yang diamanahkan Almagfurulah Maulanasyaikh......


Salam persatuan 

Minal 'Aaidiinalfaiziin 

Mohon maaf lahir bathin.(*)


Amaq Bongoh, 8 Mei 2021


  • Tags
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar