default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Relasi Gender dalam Pandangan Tuan Guru Zainuddin : Antara Kontradiksi dan Hikmah

Relasi Gender dalam Pandangan Tuan Guru Zainuddin : Antara Kontradiksi dan Hikmah
Keislaman
Zulkarnaen (Mutakharrijin MDQH NWDI Pancor)
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

NWDI Online. Com - Bila berbicara isu gender di NWDI, NBDI adalah tempat memulainya. NBDI merupakan madrasah khusus diperuntukkan bagi perempuan Sasak. Ia didirikan di tengah rezim penjajah pada tahun 1943, yakni dua tahun menjelang kemerdekaan. Peringatannya bertepatan dengan hari Kartini: setiap 21 April. 

Dalam beberapa literatur dan karya Tuan Guru Zainuddin, NBDI merupakan bentuk pengamalan dari hadis Nabi tentang kewajiban menuntut ilmu bagi laki-laki dan perempuan (lihat tulisan RTGB). Lebih lanjut, perempuan memiliki kewajiban yang sama dengan laki-laki dalam membangun nusa & bangsa (lihat Wasiat Renungan Masa). 

Singkatnya, NBDI menjadi simbol keberpihakan Tuan Guru Zainuddin terhadap perempuan Sasak. Ia peduli terhadap perbaikan kondisi mereka. Membangun NBDI kemudian menjadi satu keputusan yang sangat baik di tengah situasi cengkraman penjajah, budaya patriarki, & ketertinggalan perempuan atas laki-laki waktu itu. 

Namun dalam sejarah, ada hal yang cukup menarik perhatian ketika membincang Tuan Guru Zainuddin dan isu gender. Ia memilih madzhab Syafi'i yang mempermasalahkan kepemimpinan perempuan. Pilihan ini telah membuat perdebatan yang cukup serius di murid-muridnya. 

Awal mula perdebatan itu terjadi ketika Umi Raehanun menyalonkan diri sebagai ketua PBNW. Mereka yang setuju kepada Umi Raehanun berpandangan bahwa Tuan Guru Zainuddin tidak menganut full Syafi'i. Oleh karena itu, penyalonan Umi Raehanun boleh. 

Sementara itu, argumen yang tidak mendukung Umi Raehanun menggunakan argumen Tuan Guru Zainuddin yang full Syafi'i. Sederhananya, perempuan tidak disarankan menjadi pemimpin karena faktor emosinya, dan lain-lain (lihat tulisan Saiful Hamdi). 

Tulisan ini tidak dalam rangka menilai kasahihan kepemimpinan Umi Raehanun. Perdebatan soal kepemimpinan itu satu hal dan perkara muktamar dan apa yang terjadi di dalamnya adalah hal lain (apa yang saya maksud bisa dipahami jika Anda adalah orang yang tahu dinamika muktamar yang berujung dua PB). Titik tekan tulisan ini pada kontradiksi praktek Tuan Guru Zainuddin yang membangun NBDI dengan pilihannya terhadap madzhab Syafi'i yang mempermasalahkan kepemimpinan perempuan. 

Kontradiksi ini sebenarnya tidak aneh bahkan wajar. Gambaran Al-Qur'an mengenai isu gender memang seperti itu. Di satu sisi, Al-Qur'an menjelaskan kesejajaran laki-laki & perempuan. Contohnya tertera dalam ayat yang menyatakan bahwa hanya ketakwaan yang membedakan laki-laki & perempuan. Dalam satu sisi yang lain, Al-Qur'an mengambarkan ketidaksetaraan. Misalnya ayat tentang waris. Jelas bahwa perempuan mendapat setengah daripada laki-laki.

Jika merujuk kepada pembagian kelompok penafsiran isu gender, maka Tuan Guru Zainuddin masuk dalam katagori androsendrik. Androsendrik merupakan kelompok yang mengamini ayat-ayat yang menunjukkan ketidaksetaraan itu. Lebih lanjut, mereka mencari makna bahasanya, fungsi ayat itu ketika diturunkan, dan terakhir hikmahnya (lihat tulisan Kusmana). Umumnya kelompok androsendrik adalah ulama-ulama tradisional. Dalam hal ini, Imam Syafi'i di dalamnya. (red).

Penulis : Zulkarnaen (Mutakharrijin MDQH NWDI Pancor).


  • Tags
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar