default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Wasiat Renungan Masa Maulanasyeikh dalam Perspektif Politik

Wasiat Renungan Masa Maulanasyeikh dalam Perspektif Politik
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

NWDIOnline. Com, Mataram - Karya Maulanasyeikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid seakan menjdi rujukan dalam mewujudkan washatiyatul islam di Indonesia. Tidak jarang para cendikiawan muslim mengulik karya Pahlawan Nasional asal NTB itu. Salah satu karya konkritnya ialah wasiat renungan masa.

Salah seorang akademisi di NTB Dr. Muhammad Sa'id, MA menguraikan sebuah catatan akademis tentang wasiat renungan masa dalam perspektif politik. Hal itu diuraikan dalam acara sarasehan karya dan pemikiran Maulanasyeikh dengan tajuk "Karya Maulanasyeikh untuk Indonesia" di Taman Budaya NTB pada hari Rabu, 14 Desember 2022.

Dikutip dari Youtube chanel IPNWDI Lobar, Dr. Sa'id sapaan akrabnya, menguraikan beberapa wasiat renungan masa Maulanasyeikh dalam kacamata poitik di Indonesia. Dalam pemaparan ilmiahnya, Beiau menyebutkan dalam menerjemahkan wasiat Maulanasyeikh yang berupa bait-bait sastra hanya akan mampu diterjemahkan menggunakan bantuan teks lain yang disebut intertekstual.

Lebih lanjut, Dr. Sa'id juga menerangkan bahwa wasiat karya Maulanasyeikh itu memiliki penafsiran yang berbeda-beda jika dibaca oleh pembaca yang berbeda-beda pula.

"Kita ini reader, kalau saya membaca wasiat pemaknaan seperti apa dan kalau teman-teman membaca tentu juga akan memaknakan berbeda, itu yang disebut reader" kata Dr. Sa'id.

Beberapa wasiat renungan masa yang dipaparkan terkait perspektif politik diantaranya ialah :

Negara kita berpancasila
Berketuhanan yang maha esa
Ummat islam paling setia
Tegakkan sila yang paling utama

Yang maha esa adalah satu
Mustahil bilang mustahil berpadu
Dengan dalil Qur'an yang satu
Surat Al-Ikhlas tempatnya jitu

Jika wasiat itu baca lalu dihubungkan dengan konteks politik nasional, ini menjadi ijtihad politik Maulanasyeikh tentang perdebatan ideologi negara. Diketahui pada era kemerdekaan hingga tahun 1950-an kelompok-kelompok islam, sekuler dan komunis bertarung dalam menentukan dasar negara. Dalam wasiat diatas, Maulanasyeikh berpendapat bahwa Pancasila itu tauhidistik. Hal itu diterjemahkan bahwa sila pertama dari Pancasila merifer kepada surat Al-ikhlas bahwa Tuhan itu satu.

Wasiat selanjutnya yang berkaitan dalam konteks politik ialah:

Agama bukan sekedar ibadah
Puasa sembahyang diatas sejadah
Tapi agama mencakup akidah
Mencakup Syariah dan Hukumah

Hidupkan iman hidupkan taqwa
Agar hiduplah semua jiwa
Cinta teguh pada agama
Cinta kokoh pada negara

Pada bait diatas memberikan pandangan bahwa Maulanasyeikh itu sebagai agen yang tidak hanya berdiam diri yang hanya mementingkan ibadah, namun ada fungsi sosial yang dijalaninya. Dalam pandangan ini, Maulanasyeikh melebrkan cara berislam, yaitu memberikan contoh bahwa kita tidak hanya cukup dengan ibadah dan masih ada perjuangan-perjuangan lain yang harus dilakukan sebagai ummat islam. Dari perjalanan panjang Maulanasyeikh, tidak dapat dipandang hanya sebagai tuan guru atau ulama tetapi juga Maulanasyeikh adalah seorang politisi, Beliau pernah terpilih menjadi Konstituen pertama pada tahun 1955 dari Nusa Tenggara Barat. Konstituen dalam bahasa sekarang adalah MPR. Dalam bait kedua menjelaskan posisi negara bahwa islam dan demokrasi dapat berjalan berdampingan. Disaat Kartosuwiryo dengan project Darul islam (tentara-tentara Islam) memberontak pancasila dengan menganggap Pancasila itu Thogut (tidak berdasarkan dalil Al-Qur'an) Maulanasyeikh memberikan pemikiran yang visioner bahwa islam dan demokrasi dapat berjalan beringinan yang disebut dengan satu tarikan nafas.

Wasiat lain yang dikutip Dr. Sa'id diantaranya:

Aduh sayang !
Pintu NW terbuka lama
Bagi anakku yang ingin bersama
Mari bersama selama-lama
Jangan kembali ke ORDE LAMA

Aduh sayang !
Seperlima abad anakku berpisah
Selama itu timbullah fitnah
Di sana sini anakku berbantah
Sesama saudara di dalam Nahdlah

Diketahui bahwa bait diatas merupakan bait krusial yang menjadi perdebatan panjang antara NW dan NWDI, namun Dr. Sa'id memiliki pandangan yang berbeda atas penafsiran bait tersebut, yaitu menafsirkan dalam konteks politik nasional. Pada tahun 1952, NU dan Masyumi pecah dan sebagin murid Maulanasyeikh ke partai NU dan Maulanasyeikh tetap di Masyumi. Selama rentang waktu antara tahun 1952 hingga 1973 ada kebijakan penyederhanaan partai dan hanya boleh ada partai Golkar, PDI, dan PPP. Maulanasyeikh lalu mengambil ijtihad politik bergabung dengan Golkar, dari langkah itu banyak murid Maulanasyeikh yang tidak mau ikut masuk ke partai Golkar, karna diketahui di partai Golkar itu terdapat golongan non-muslim, sekuler dan lintas golongn lainnya. Banyak dari murid Maulanasyeikh menginginkan untuk berlabuh di PPP. Maka setelah itu muncullah fitnah pada diri Maulanasyeikh yang dalam suatu wawancara di laporkanlah Maulanasyeikh kepada sang guru Maulanasyeikh M. Hasan Al-Mahsyat bahwa Maulanasyeikh bergabung ke partai non-muslim. Lebih lanjut pada konteks di atas, Dr. Sa'id menafsirkan wasiat di atas sebagai konteks politik nasional karna jelas dalam bait yg berurutan tersebut diawali dengan "Jangan kembali ke Orde Lama". Seperti diketahui bahwa pada era Soekarno, Masyumi dipaksa untuk membubarkan diri.

Wasiat yang senada dengan bait diatas juga terdapat dalam beberapa wasiat lainnya, diantaranya:

Dalang politik bermain curang
Kekiri kekanan aktif menendang
Sehingga tak segan membayar hutang
Dengan NW nya pada orang

Bila nanda memang berhutang
Janganlah NW harus dilelang
NW bukan milik seorang
Tak boleh dipakai membayar hutang

Poin pada bait di atas masih dalam konteks global politik nasional yang berimbas pada tatanan Ormas. Yang di highlight pada bait ini adalah kalimat "NW bukan milik seorang". Diterangkan lebih jelas bahwa, NW itu milik publik atau milik semua orang yang mencintai NW itu sendiri. Seperti diketahui NW lahir di tanah sasak, dan tidak ada tuan guru di lombok yang dalam karanya menyebutkan kata "Sasak". Hal itu merupakan bentuk kritik pada sistem yang di bangun dipusat yaitu Jakarta Sentris.

Kemudian semakin memanasnya perihal politik nasional pada masa itu, dalam wasiatnya Maulanasyeikh membalas respon melalui wasiat sebagai berikut:

Ajibnya sekarang di partai Islam
Berpura-pura membela islam
Aktif keliling siang dan malam
Membela diri melupakan islam

Aduh sayang !
Banyak orang memfitnah buta
Mengkafirkan orang dengan sengaja
Lantaran tak masuk dalam partainya
NAUDZUBILLAH MINZALIKA

Bait di atas merupakan respon balasan atas fitnah yang ditujukan kepada Maulanasyeikh. Dalam konteks di atas, sekarang ini juga kita mengenal istilah "Politik Identitas". Sehingga pengalaman politik pada masa lalu persis sama terjadi seperti sekarang, dan pasti akan ditemui pada setiap perhelatan pesta demokrasi. Artinya, jauh sebelum itu Maulanasyeikh telah menguraikan uraian tentang pemikiran politiknya.

Bait-bait yang diuraikan di atas merupakan pandangan politik Maulanasyeikh. Artinya, mengenal pribadi Maulanasyeikh tidak hanya sebagai sosok ulama tetapi juga tokoh politisi yang ikut serta bagaimana menjaga keutuhan berbangsa dan beragama. Dr. Sa'id mengingatkan juga bahwa tulisan ini bukan bentuk doktrinisasi terhadap siapapun melainkan hanya mencoba mengelaborasi antara teks wasiat dengan sejarah masa lalu melalui hipotesa akademik, jika ingin dibantah maka bantahlah dengan hipotesis akademik jua. (red/Arifil).


  • Tags
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar