default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Ya Alloh Jauhkan Kami Dari Penjilat & Pengkhianat

Ya Alloh Jauhkan Kami Dari Penjilat & Pengkhianat
Opini
Ilustrasi_koleksinya internet
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

NWDI Online. Com - Kalian pasti akan bertemu dengan orang-orang yang paling Allah benci, yaitu mereka yang bermuka dua. Di satu kesempatan, mereka memperlihatkan satu sisi muka, namun di kala yang lain, mereka memperlihatkan muka yang lain pula.” (HR. Bukhari-Muslim).

Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat penjilat yang sering kali bermuka dua, dapat mengatakan hal yang bertolak belakang, tergantung di hadapan siapa dia berbicara. Tujuan para penjilat sudah jelas hanyalah untuk kepentingan dirinya saja, agar orang lain terutama yang berada di atasnya memandang baik pada dirinya.

Sesungguhnya orang yang beriman pada Allah tak mungkin memiliki karakter seorang penjilat, hal ini adalah sebuah kepastian:

“Menjilat bukanlah termasuk karakteristik moral seorang mukmin.” (Kanzul Ummat, hadits 29364)

Meskipun sebagian besar manusia di muka bumi memiliki sifat suka menjilat dan bermuka dua, bahkan dihormati oleh banyak orang karena sifat tersebut, seorang mukmin tetap takkan meninggalkan prinsip kejujuran dan kebenaran.

“Ketika hari pengadilan makin dekat … orang-orang yang paling dihormati pada zaman itu adalah para penjilat dan orang-orang yang suka mencari muka.”

(HR. Bukhari Muslim)

Dalam sejarah peradaban manusia, pasti ada saja seseorang yang tiba-tiba berpindah kubu. Entah untuk beberapa alasan sehingga orang berpindah kubu atau yang lebih populer orang menyebutnya pengkhianatan. Ada yang mengkhianati karena menganggap hal tersebut demi kebaikan bersama, beberapa karena terpaksa, dan beberapa karena masalah finansial.

Jika tidak terbeban oleh faktor tersebut, mungkin mereka tidak akan berkhianat. Namun, pengkhianatan tetap saja perbuatan paling tercela dan tidak terpuji dan yang jelas pengkhianatan itu menyakitkan, sebagaimana petikan lirik lagunya Anang Hermansyah.

"Kau khianati hati ini, kau curangi aku!"

Disakiti dan dikhianati pasti akan menyisakan kepedihan di relung hati. Berjuang untuk bisa benar-benar move on pun tak mudah. Bisa butuh waktu yang cukup lama untuk bisa membuat hati kembali tenang. Tidak mudah untuk berkata diri kita baik-baik saja sementara masih ada luka yang masih menganga.

Memaafkan kesalahannya mungkin bisa kita lakukan. Tapi untuk melupakan luka dan rasa sakit hati yang sudah ia torehkan itu persoalan lain.

Sikap kita mungkin tak lagi sama terhadapnya. Kita bisa saja memaafkannya tapi untuk menerimanya kembali seperti sedia kala bukanlah hal mudah. Luka kita perlu waktu untuk sembuh. Perasaan kita butuh waktu untuk bisa kembali baik-baik saja. Hal ini pun sebenarnya wajar sebab kita pun tetaplah manusia biasa yang punya hati.

Namun memaafkannya merupakan langkah awal yang perlu kita ambil. Setidaknya kita sudah melepas satu beban yang ada di benak kita. Tak ada lagi dendam yang tersimpan di dalam dada. Tapi belum tentu segalanya akan membaik dan kembali seperti sedia kala. Melupakan kesalahan dan rasa sakit hati itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Kesetiaan itu mahal harganya. Begitu sudah ternoda dan terluka, hati ini tak lagi sama. Sebelum dia benar-benar memperbaiki sikapnya dan menebus kesalahannya, rasanya sangat sulit untuk melupakan kesalahan yang ia perbuat. Mungkin kita akan tersenyum saat bertemu dengannya tapi hati ini belum benar-benar lapang menyambutnya.

Bisa jadi memang saat ini yang terbaik adalah menjaga jarak. Jangan sampai terjebak dalam jeratannya kembali. Dikhianati memang tak bisa membuat kita merasa baik-baik saja. Tapi bukan berarti itu membuat hidup kita berakhir begitu saja.

Walau mungkin kita belum sepenuhnya bisa melupakan pengkhianatan dan luka yang sudah ditorehkan, kita masih punya waktu dan kesempatan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Relakan saja yang sudah berlalu. Ambil hikmah dan pelajaran dari pengalaman yang ada. Kini, fokuslah untuk menjalani hidup yang lebih baik.

Kita tak punya kendali penuh atas kehidupannya. Biarlah dia yang menanggung akibat dari perbuatannya. Daripada terus menyalahkan sesuatu yang telah lewat, lebih baik kita mulai menata dan merancang hidup yang lebih baik ke depannya.

Karena bukan rahasia umum lagi kalau banyak orang yang pintar dan hebat akan kalah dengan orang penjilat dan pengkhianat. 

Lalu bagaimanakah cara menghindari sifat suka menjilat dan mencari muka? Berikut ini beberapa cara di antaranya yang bisa kita praktekkan:

1. Menghindari memuji seseorang secara berlebihan

Ali bin Abi Thalib pernah berpesan, ”Memuji lebih dari yang seharusnya adalah penjilatan.” (Nahjul Balaghah, hikmah 347)

Seorang penjilat biasanya memuji sesuatu secara berlebihan dengan tujuan mendapat perhatian. Ia akan memuji orang-orang kaya, orang-orang berkuasa, orang-orang berilmu, agar mendapat keuntungan dari mereka.

Maka kita perlu menghindari pujian berlebihan terhadap apapun. Karena sesungguhnya segala puji hanyalah bagi Allah.

2. Banyak menghidupkan hati dengan berdzikir pada Allah di kala sendiri dan menjauhi sifat pamer/riya’

”Sesungguhnya orang-orang Munafik itu Menipu Allah, dan Allah akan membalas Tipuan Mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (An-Nisa’: 142)

Seorang penjilat dimasukkan dalam kategori orang munafik, mereka hanya bersemangat beribadah di hadapan orang lain, sedangkan ketika sendirian akan sangat sedikit mengingat dan menyebut Allah.

Maka, selisihilah para penjilat dengan cara menambah semangat beribadah justru di saat sendirian dan tak ada seorang pun yang mengetahui.

3. Tidak meminta jabatan atau kedudukan pada manusia

“Janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah, dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong).” (HR. Bukhari)

Jelas bahwa seorang penjilat suka meminta suatu keuntungan bagi dirinya sendiri, misalnya jabatan, harta, dan lainnya.

4. Meminimalisir ambisi terhadap harta dan kekuasaan

“Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepas di tengah gerombolan kambing lebih merusak daripada rusaknya seseorang terhadap agamanya karena ambisinya untuk mendapatkan harta dan kedudukan yang tinggi.” (HR. at-Tirmidzi no. 2482, disahihkan asy-Syaikh Muqbil dalam ash-Shahihul Musnad, 2/178)

Na’udzubillah. Ambisi terhadap harta benda dan kekuasaan bisa amat merusak, bahkan dapat merusak agama seseorang, yang berarti ia rela meninggalkan nilai-nilai agama hanya untuk mengejar ambisi duniawinya.

5. Jangan merasa takut pada manusia

Sahabat, takut pada manusia adalah salah satu ciri yang dimiliki seorang penjilat. Ia khawatir jika kehilangan jabatan, maka ia takut menyelisihi atasannya, jadilah ia seorang yang ABS (Asal Bos Senang). Ia khawatir akan tersisih dari pergaulan jika menampakkan simbol keagamaan, maka ia pun menanggalkan pakaian taqwanya.

Maka janganlah kalian takut kepada manusia, tapi takutlah kepada-Ku. Dan jangan pula kalian menjual ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (al-Ma’idah: 44)

6. Integritas antara yang diucapkan dengan yang dikerjakan

Seorang penjilat biasanya tak peduli apakah perkataan dan perbuatannya selaras atau jauh berbeda. Maka jauhilah sifat seperti ini, lihatlah apakah ucapan dan perilaku kita sudah sesuai.

“Akan datang sesudahku penguasa-penguasa yang memerintahmu. Di atas mimbar mereka memberi petunjuk dan ajaran dengan bijaksana, tetapi bila telah turun mimbar mereka melakukan tipu daya dan pencurian. Hati mereka lebih busuk dari bangkai.” (HR. Ath-Thabrani)

7. Tidak menggunakan dalil agama untuk menyokong kepentingan pribadi

Orang dengan sifat munafik dan suka menjilat bisa memutar-mutar ayat dan hadits serta nilai agama dengan lidahnya untuk kepentingan pribadi. Mereka bisa melakukan berbagai pencitraan agar manusia terkecoh menyangkanya bersahaja, beriman pada Allah, padahal hati mereka tidak demikian.

“Pada Akhir Zaman akan muncul orang-orang yang tidak segan-segan menggunakan agama demi tujuan-tujuan duniawi dan mengenakan shuf (pakaian dari bahan bulu domba) di depan umum untuk memperlihatkan kesahajaan. Lidah mereka lebih manis daripada gula, tetapi hati mereka adalah hati serigala.” (HR. Tirmizi)

8. Berani mengatakan hal yang benar sekalipun di hadapan penguasa zhalim

“Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran (berkata yang baik) di hadapan penguasa yang zhalim.” (HR. Abu Daud no. 4344, Tirmidzi no. 2174, Ibnu Majah no. 4011. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Seorang penjilat tak mungkin berani mengatakan kebenaran di hadapan penguasa zhalim terutama jika kebenaran tersebut bisa menyeretnya menjauh dari kekuasaan dan kenikmatan duniawi. Maka, beranilah memegang prinsip dan mengatakan kebenaran walau pahit!

Sebagai hamba Allah yang dhaif, kita tak kuasa membaca isi hati seseorang, apakah kelak teman atau sahabat kita  bisa terus bersama-sama dalam meraih kebaikan, atau suatu saat akan mencelakakan. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita sebuah doa agar terhindar dari teman yang jahat dan pengkhianat.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  bersabda:

اَللَّهُـمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ يَوْمِ السُّوْءِ، وَمِنْ لَيْلَةِ السُّوْءِ، وَمِنْ سَاعَةِ السُّوْءِ، وَمِنْ صَاحِبِ السُّوْءِ، وَمِنْ جَارِ السُّوْءِ فِيْ دَارِ الْـمُقَامَةِ

“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hari yang buruk, malam yang buruk, waktu yang buruk, teman yang jahat dan tetangga yang jahat di tempat tinggal tetapku.” (HR. At-Thabrani).

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ خَلِيلٍ مَاكِرٍ ، عَيْنَاهُ تَرَيَانِي وَقَلْبُهُ يَرْعَانِي ، إِنْ رَأى حَسَنَةً دَفَنَهَا ، وَإِنْ رَأى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا

“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari teman dekat yang suka menipu, matanya melihatku tetapi hatinya mencurigai aku. Jika ia melihat kebaikanku, ia sembunyikan. Tetapi jika ia melihat kejelekanku ia sebarkan”.(Hadits mursal riwayat Ibnu Najjar dari Sa’id Al-Maqburi)

Pada do’a tersebut, kita memohon kepada Allah Ta’ala agar dilindungi dari kejahatan teman akrab atau sahabat karib yang khianat dan menipu. Dijauhkan dari keburukannya dapat beragam bentuknya. Terserah kepada Allah Ta’ala bagaimana Ia melindungi kita. Husnuzhan tetap kita jaga, tidak sibuk mencurigai sebagian sahabat dekat kita, tetapi Allah Ta’ala menjauhkannya pelan-pelan. Kita tidak memutus persahabatan, tapi tanpa terasa saling berjauhan. Atau, boleh jadi tetap akrab, tapi Allah Ta’ala singkirkan tipu dayanya dari kita. Dalam ini kita tidak perlu bersibuk menelisik keburukan sahabat kita, yang menjauh maupun yang mendekat. (red).

Copas dari berbagai sumber.

Editor : Amaq Auliya


  • Tags
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar